Konsep Desain Arsitektur
S.O.W.A. (School of Woman Architects)
Hari 1 (Durasi 90 Menit)
MEMAHAMI KONSEP DESAIN ARSITEKTUR
BAGIAN 1
PEMAHAMAN
KONSEP
1. CARA SEDERHANA MEMAHAMI
KONSEP
Cara sederhana untuk memahami konsep adalah dengan
menggunakan analogi tubuh dan jiwa. Desain itu tubuh atau dengan kata lain berbentuk
fisik. Konsep itu jiwa atau dengan kata lain berbentuk non fisik. Konsep dan desain
merupakan satu kesatuan dari karya arsitektur, tidak terpisahkan. Tubuh tanpa
nyawa kosong, nyawa tanpa tubuh tidak berwujud/tidak lahir/tidak ada
eksistensi. Dengan kata lain, pengertian sederhana konsep adalah jiwa dari
karya arsitektur.
2. KONSEP MERESPON ‘SITUASI’
Respon inilah yang akan diterjemahkan oleh arsitek
melalui desain untuk menghadapi ‘situasi’. Situasi yang dimaksud merupakan
kondisi ‘eksisting’ yang ada di lapangan dan sifatnya pasti. Pasti dalam artian
berupa fakta dan ditunjang dengan data yang valid. Data yang valid harus
memenuhi syarat berikut; memiliki sumber yang kredibel, mutakhir/terbaru, dan
metadata diketahui. Jenis data menurut bentuknya meliputi; data kuantitatif,
kualitatif, geospasial, audio/suara, image/ gambar, dan video/ gambar bergerak.
3. PERAN & LANGKAH
PENYUSUNAN KONSEP
Konsep berperan sebagai panduan/acuan yang berisi ‘landasan
& batasan’ agar situasi dapat ditangani secara tepat dan akurat. Agar dapat
menyusun panduan yang sesuai dengan situasi, langkah pertama yang harus diambil
adalah mengenali situasi/maslah/issue.
3.1.MENGENALI
SITUASI/MASALAH/ISSUE
Situasi/masalah
bersumber/dapat diperoleh dari fenomena. Fenomena adalah kejadian yang dapat
diobservasi oleh pancaindra. Fenomena yang dapat menjadi sumber masalah antara
lain:
·
Fenomena yang kehadirannya tidak diinginkan. Contoh: tingkat
pengangguran tinggi, wabah penyakit, bencana alam
·
Fenomena yang ingin diwujudkan. Contoh: swasembada beras, bebas buta
huruf, perdamaian.
·
Fenomena berupa kesenjangan/GAP antara kondisi sekarang dan kondisi
ideal yang ingin dicapai. Contoh: KDB sekarang 90% sedangkan kondisi ideal yang
ingin dicapai 60%. Terdapat GAP 30% yang menjadi situasi/masalah/issue.
3.2.MERUMUSKAN MASALAH
Setelah menemukan sumber
masalah, langkah selanjutnya adalah merumuskan. Salah satu cara sederhana untuk
merumuskan masalah adalah menggunakan analogi fenomena gunung es. Pada analogi
ini, fenomena/kejadian yang kita lihat adalah bagian puncak gunung es saja. Kita
perlu menggali pola & struktur dari fenomena tersebut untuk merumuskan
permasalahan.
Gambar 1. Kerangka Berpikir Logis Fenomena Gunung Es
3 pertanyaan sederhana
berikut dapat digunakan untuk membantu merumuskan masalah:
·
APA KEJADIANNYA?
Merupakan fenomena yang diobservasi. Contoh:
kemacetan lalu lintas.
·
SEPERTI APA POLA DARI KEJADIAN TERSEBUT?
Merupakan kecenderungan terkait waktu & tempat
kejadian, serta pengulangan waktu dan tempat kejadian yang serupa. Contoh:
Setiap pukul 15.00-18.00 WIB di simpang X. Terjadi setiap hari.
Merupakan segala hal yang memiliki hubungan sebab
akibat (kausalitas) dengan pola kejadian. Contoh: Pengendara tidak tertib,
tetap melajukan kendaraan walau lampu sedang merah. Jam pulang kerja sehingga
volume kendaraan banyak.
3.3.MENGUMPULKAN DATA
Setelah merumuskan masalah,
langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data yang terkait dengan masalah yang
dirumuskan. Data tersebut meliputi:
·
GEOGRAFIS
Meliputi topografi/kontur, ketinggian (mdpl), jenis
tanah, arah mata angin, dan karakteristik lahan (pantai, gurun, pegunungan,
dataran tinggi, dataran rendah, dll).
·
ADMINISTRATIF
Meliputi luas wilayah dan lokasi menurut Negara,
kota, desa, dst. Jika tidak diketahui bias menggunakan koordinat GPS.
·
KLIMATOLOGIS
Meliputi iklim, cuaca, temperature, kecepatan angin,
arah angin, dan kelembaban udara.
·
DEMOGRAFIS
Meliputi data kependudukan seperti jumlah penduduk,
gender, usia, pendidikan, migrasi, dll. Selain data tentang manusia, juga
mencakup data terkait tanaman dan hewan.
·
HUKUM
Meliputi hukum terkait yang sifatnya resmi (diakui negara)
maupun hokum adat. Contoh hokum resmi: KDB, KLB, sempadan, peraturan basement,
resapan, dll. Contoh hukum adat: di daerah tertentu di Bali ketinggian bangunan
tidak boleh melebihi pohon kelapa, dll.
·
SOSIAL-BUDAYA
Meliputi karakteristik
masyarakat/suku/etnis berupa kebiasaan, seni, makanan, interaksi sesama, dll. dalam
konteks keseharian hidup.
Perbedaan poin hukum dan social-budaya
adalah jika hokum apabila dilanggar mendapatkan sanksi. Sosial budaya lebih ke
kebiasaan/cara hidup sehari-hari.
Selanjutnya
data yang diperoleh dipakai untuk analisa tapak dan kebutuhan ruang sehingga
menghasilkan apa yang disebut:
·
PROGRAM RUANG
Berisi pola hubungan antar ruang, organisasi ruang
& zonasi. Nantinya akan menjadi acuan pembuatan denah.
·
GUBAHAN MASSA
Berisi pendekatan desain
arsitektur dan bentuk dasar/sederhana massa bangunan. Nantinya akan menjadi
acuan desain massa bangunan.
Langkah-langkah analisa
tapak dan kebutuhan ruang sehingga menjadi program ruang dan gubahan massa akan
dibahas terpisah.
Apabila ingin mengutip tulisan ini,
mohon cantumkan format kutipan berikut:
SOWA
(School of Woman Architects), 2018. MEMAHAMI
KONSEP DESAIN ARSITEKTUR BAGIAN 1, SOWA (School of Woman Architects),
Pekanbaru, Indonesia.

Komentar
Posting Komentar