Halo! Akhirnya setelah beberapa bulan mengendap, akhirnya rubrik SOWA TOUR kembali lagi. Harusnya tulisan ini tayang di bulan September, namun karena satu dan lain hal baru bisa tayang bulan Desember. What? Kemana aja lo min? *diamuk masa. Tanpa banyak basa-basi lebih lanjut, langsung saja kita mulai TOUR nya. Kemana? Ehm, cari drainase Kota Pekanbaru ('.').
Ketemu min?
Yes, Ketemu di beberapa titik saja. Entah air dari mana, mau diarahkan ke mana sama tidak jelasnya. Pertanda pembangunan yang tidak merata. Atau malah bukan prioritas pembangunan? Padahal baru dalam lingkup kota. Apa kabar kalau hujan? Jangan ditanya. Banjir dimana-mana, sob. Kalau hujan, disarankan untuk tidak keluar rumah. Kalau sudah di luar bolehlah pasrah, hehe.
Dari pengamatan SOWA, banjir di Kota Pekanbaru itu bertipe banjir 'Cileuncang', diambil dari bahasa sunda yang artinya banjir akibat luapan air karena kegagalan fungsi drainase menampung kapasitas air, entah karena tersumbat atau memang tidak mencukupi, terutama saat hujan tiba . Dipikir-pikir hebat juga orang sunda. Tidak perlu ngomong menjelaskan panjang lebar, cukup bilang 'Cileuncang', hehe.
Sejauh yang SOWA amati, ada 3 jenis drainase di Kota Pekanbaru yang menjadi biang kerok Cileuncang saat musim hujan tiba:
1. Drainase dengan kapasitas yang seharusnya cukup, namun tidak terawat.
Drainase tipe ini memiliki dimensi yang seharusnya cukup untuk menampung air, namun air yang ada di dalamnya lambat atau tidak mengalir karena endapan/ sedimentasi, dipakai buang sampah (ini mungkin dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu sampah harus dibuang ke mana), atau ujungnya buntu alias tidak tersambung. Entah karena belum selesai dibangun atau bagaimana masih merupakan misteri abad ini. Saran SOWA drainase seperti ini harus rutin dirawat dan segera dilanjutkan pembangunannya agar air bisa mengalir dengan lancar.
2. Drainase dengan kapasitas yang jelas tidak cukup dan tidak terawat
Keberadaan drainase ini cukup dominan. Sudah kecil, banyak sampah pula di dalamnya. Solusinya, ya, harus dijaga kebersihannya. Kurangi kebodohan buang sampah sembarangan,. Lenyap dari matamu, tapi nangkring di selokan. Kan, nggak lucu. Selain itu, sepertinya perlu dilakukan pelebaran drainase secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat. Jangan dibayangkan susahnya, bayangkan indahnya jika jalanan tidak banjir dan air selokan bening :)
3. Tidak ada drainase (*elah)
Cuss bikin kalau nggak mau banjir.
Sekian SOWA TOUR edisi kali ini, semoga bermanfaat. Sampai bertemu lagi di SOWA TOUR edisi Oktober 2018 :)
Ketemu min?
Yes, Ketemu di beberapa titik saja. Entah air dari mana, mau diarahkan ke mana sama tidak jelasnya. Pertanda pembangunan yang tidak merata. Atau malah bukan prioritas pembangunan? Padahal baru dalam lingkup kota. Apa kabar kalau hujan? Jangan ditanya. Banjir dimana-mana, sob. Kalau hujan, disarankan untuk tidak keluar rumah. Kalau sudah di luar bolehlah pasrah, hehe.

Dari pengamatan SOWA, banjir di Kota Pekanbaru itu bertipe banjir 'Cileuncang', diambil dari bahasa sunda yang artinya banjir akibat luapan air karena kegagalan fungsi drainase menampung kapasitas air, entah karena tersumbat atau memang tidak mencukupi, terutama saat hujan tiba . Dipikir-pikir hebat juga orang sunda. Tidak perlu ngomong menjelaskan panjang lebar, cukup bilang 'Cileuncang', hehe.
Sejauh yang SOWA amati, ada 3 jenis drainase di Kota Pekanbaru yang menjadi biang kerok Cileuncang saat musim hujan tiba:
1. Drainase dengan kapasitas yang seharusnya cukup, namun tidak terawat.
Drainase tipe ini memiliki dimensi yang seharusnya cukup untuk menampung air, namun air yang ada di dalamnya lambat atau tidak mengalir karena endapan/ sedimentasi, dipakai buang sampah (ini mungkin dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu sampah harus dibuang ke mana), atau ujungnya buntu alias tidak tersambung. Entah karena belum selesai dibangun atau bagaimana masih merupakan misteri abad ini. Saran SOWA drainase seperti ini harus rutin dirawat dan segera dilanjutkan pembangunannya agar air bisa mengalir dengan lancar.
2. Drainase dengan kapasitas yang jelas tidak cukup dan tidak terawat
Keberadaan drainase ini cukup dominan. Sudah kecil, banyak sampah pula di dalamnya. Solusinya, ya, harus dijaga kebersihannya. Kurangi kebodohan buang sampah sembarangan,. Lenyap dari matamu, tapi nangkring di selokan. Kan, nggak lucu. Selain itu, sepertinya perlu dilakukan pelebaran drainase secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat. Jangan dibayangkan susahnya, bayangkan indahnya jika jalanan tidak banjir dan air selokan bening :)
3. Tidak ada drainase (*elah)
Cuss bikin kalau nggak mau banjir.
Sekian SOWA TOUR edisi kali ini, semoga bermanfaat. Sampai bertemu lagi di SOWA TOUR edisi Oktober 2018 :)
Komentar
Posting Komentar