Konsep Desain Arsitektur
S.O.W.A. (School of Woman Architects)
Hari 2 (Durasi 90 Menit)
MEMAHAMI KONSEP DESAIN ARSITEKTUR
BAGIAN 2
3.4.ANALISA DATA
Ketika data yang sudah dibahas pada bagian1 terkumpul, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan analisa. Analisa
data dalam arsitektur berupa respon arsitek terhadap data yang tersedia. Selain
dalam deskripsi tulisan, analisa data dalam arsitektur juga harus
divisualisasikan. Terdapat 2 format visualisasi data, yaitu:
1.
Data & respon arsitek disajikan dalam 1 gambar
2.
Data & respon disajikan masing-masing dalam 2
gambar terpisah
Catatan:
di sini Arsitek diharapkan mengeksplorasi respon
secara kreatif, tidak meniru analisa data yang sudah ada. Setiap karya
arsitektur memiliki situasi masing-masing dan tidak mungkin memiliki data yang
sama. Arsitek harus jeli melihat situasi yang ada dan memberikan respon yang
tepat.
3.5.MEMBUAT TABEL
KEBUTUHAN RUANG
Tahapan berikutnya adalah membuat tabel
kebutuhan ruang. Ada 2 sumber yang dapat digunakan untuk membuat tabel
kebutuhan ruang, yaitu kajian literatur & observasi. Seringkali arsitek
menuliskan ‘asumsi’ sebagai sumber, namun kata asumsi merupakan diksi yang
kurang tepat karena asumsi tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Lain jika menggunakan kata ‘observasi’. Observasi merupakan hasil dari proses
pengamatan yang tentunya dapat dipertanggunjawabkan secara ilmiah. Berikut adalah
standar minimal pembuatan tabel kebutuhan ruang:
TABEL KEBUTUHAN RUANG
No.
|
Nama Ruang
|
Kapasitas
|
Luas
|
Jumlah
Ruang
|
Sumber
|
3.6.MENENTUKAN
PENDEKATAN ARSITEKTUR
Poin ini mungkin sedikit berbeda dengan materi
yang diajarkan di universitas selama ini. Tahapan penentuan pendekatan
arsitektur dilakukan ketika sudah mendapatkan hasil analisa data dan kebutuhan
ruang. Hal ini dilakukan untuk menghindari pendekatan yang tidak tepat sasaran.
Arsitek harus memanfaatkan hasil analisa data dan kebutuhan ruang sebaik
mungkin untuk menentukan pendekatan yang tepat.
3.7.MEMBUAT
PROGRAM RUANG
Setelah membuat tabel kebutuhan ruang,
tahapan selanjutnya adalah menentukan pola hubungan antar ruang, organisasi
ruang, dan zonasi. Pola hubungan antar ruang merupakan diagram yang menunjukkan
hubungan antar ruang. Berikut adalah contoh pola hubungan antar ruang pada
sebuah kamar hotel. Garis yang menghubungkan ruang satu dengan yang lain
menunjukkan aksesbilitas dari dan ke dalam ruang.
Setelah
selesai membuat pola hubungan antar ruang, hal selanjutnya yang harus dilakukan
adalah membuat organisasi ruang. Organisasi ruang menunjukkan hirarki ruang
yang terdiri dari 4 kategori:
1. Publik
Apakah ruang
ini dapat diakses oleh semua kalangan tanpa harus ijin terhadap pemilik? Jika
jawabannya ya, maka ruang tersebut termasuk dalam kategori publik.
2.
Privat
Apakah ruang
ini hanya dapat diakses pemilik? Jika jawabannya ya, maka ruang tersebut
termasuk dalam kategori privat.
3.
Semi privat
Apakah ruang
ini masih bisa diakses hanya dengan ijin pemilik? Jika jawabannya ya, maka
ruang tersebut termasuk dalam kategori semi-privat.
4.
Servis
Fasilitas
pendukung, utilitas, sanitasi, dan keamanan merupakan ruang yang termasuk
kategori servis. Contoh: parkir, pos jaga, toilet, dapur, gudang, laundry, dll.
Hasil organisasi ruang dapat ditambahkan pada tabel
kebutuhan ruang untuk mempermudah penyajian.
No.
|
Nama Ruang
|
Kapasitas
|
Luas
|
Jumlah
Ruang
|
Sumber
|
Organisasi
|
Langkah
selanjutnya, adalah pembuatan zonasi. Zonasi menggambarkan posisi ruang di
dalam tapak. Ruang yang digambarkan di dalam zonasi harus memiliki ukuran yang
mendekati dengan ruang asli yang nantinya akan dibuat.
3.7.MEMBUAT
GUBAHAN MASSA
Rumus standar untuk pembuatan
gubahan massa adalah pendekatan desain+bentuk dasar. Pada dasarnya, bentuk
geometri hanya terdiri dari 3 bentuk, yaitu kotak, lingkaran dan segitiga. Pemilihan
bentuk dasar yang dipilih dan diolah secara tepat sesuai pendekatan desain
adalah kuncinya. Pengolahan ini dapat dengan memotong, menambah, menggabung,
menarik, dll dan tentu saja harus sejalan dengan pendekatan desain. Tahapan ini
harus dilakukan secara 3D. Bagi arsitek yang merasa kesulitan menggunakan
sketsa tangan, dapat dilakukan alternatif dengan menggunakan maket, lego,
plastisin/malam,dll.
Seringkali arsitek membuat gubahan
massa yang terlalu detail, atau bahkan kurang detail. Gubahan massa final sebaiknya
sudah memiliki gambaran sebagai berikut:
1. Solid & light
Bagian mana yang padat (solid) dan
bagian mana yang kosong/transparan (light)
2. Tinggi & Rendah
Apabila ada perbedaan ketinggian,
hal ini harus sudah terlihat dalam gubahan massa.
3. Gap
Apabila ada jarak / massa tidak
saling menempel, hal ini ini harus sudah terlihat dalam gubahan massa. Gap
sekecil tali air juga harus sudah digambarkan.
Tahapan
penyusunan konsep berhenti pada tahapan ini. Tahapan selanjutnya adalah
pembuatan karya arsitektur secara mendetail yaitu model 3d baik menggunakan
software maupun maket, maupun 2d untuk gambar kerja.
Apabila ingin mengutip tulisan ini,
mohon cantumkan format kutipan berikut:
SOWA (School
of Woman Architects), 2019. MEMAHAMI KONSEP
DESAIN ARSITEKTUR BAGIAN 2, SOWA (School of Woman Architects), Pekanbaru,
Indonesia.

Komentar
Posting Komentar